Memaknai Kemerdekaan. Dua kata yang kedengarannya demikian sepele namun sangat sulit untuk dapat diimplementasikan dengan baik dalam keseharian kita. Tidak terkecuali juga dengan saya.
Setiap bulan Agustus, di berbagai penjuru tanah air tercinta ini, mungkin sudah mengakar bahwa hingar bingar dan hiruk pikuk sukacita memperingati kemerdekaan kita sebagai bangsa pasti akan terjadi. Berbagai kegiatan dilakukan oleh masyarakat kita. Berbagai perlombaan dari mulai perlombaan makan kerupuk, balapan bakiak sampai dengan perlombaan olahraga juga dilakukan di berbagai perkampungan maupun di perkantoran elit sekalipun.
Namun demikian setelah 61 tahun bangsa ini merdeka apa makna dari semua kegiatan itu, apakah ada yang berbekas kedalam hati sanubari kita bahwa kita telah berbuat yang terbaik bagi bangsa ini ?
Bila saja kita melihat salah satu perlombaan yang dilaksanakan, misalkan saja makan kerupuk, peserta lomba biasanya makan kerupuk secepatnya dan untuk menjadi yang tercepat kerupuk tidak dimakannya tetapi di lepeh. Apakah sudah kaya raya negara ini sampai makanan saja diperlombakan dan dilepehkan. Bukankah dengan demikian mengandung arti bahwa kita telah salah memberikan pendidikan dari adanya perlombaan itu ?
Program bersih-bersih lingkungan yang terjadi di bulan Agustus sangat luar biasa, seluruh warga masyarakat biasanya melakukan kerja bhakti disana-sini, pengapuran juga tidak ketinggalan dilakukan. Namun pertanyaannya, apakah program bersih-bersih hanya dilakukan di bulan Agustus, lalu kemana bulan yang lainnya ?
Saya pernah menegur seorang ibu yang berjalan dengan seorang anaknya, si anak membawa makanan ringan ditangannya, karena isi makanan ringan itu sudah habis, si anak lalu membuang bungkus makanan ringan ke lorong gang dimana juga saya berada di lorong itu. Sebenarnya tempat sampah umum di lorong itu sudah disediakan.
”Bu, maaf anaknya membuang sampah sembarangan, apakah ibu tidak menyuruh dia untuk membuang sampah ke tempat sampah itu” kata saya sambil menunjuk ke arah tempat sampah yang tidak jauh dari lorong itu.
Entah apa yang terdapat dalam pikiran si Ibu saat ditegur oleh saya, dan dia menjawab dengan sederhana saja :
”Ah pak, namanya juga anak-anak”
Mendengar jawaban seperti itu saya berpikir, alangkah sederhananya ibu itu berpikir dan membiarkan anaknya membuang sampah di tempat umum. Bila kita bandingkan dengan perjuangan para pahlawan yang memperebutkan kemerdekaan negara ini, perjuangan untuk mendidik anak agar membuang sampah pada tempatnya bukanlah perjuangan yang berat dan harus bersimbah darah. Namun mengapa kemudian tidak dilakukan oleh si ibu tadi ?
Rasanya kita semua perlu meminta maaf kepada para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah sampah dengan tetes darah penghabisan. Meski mereka belum melihat sisi terang mengenai kehidupan pasca kemerdekaan, tetapi mereka dengan gigih terus berjuang agar negara ini merdeka. Lalu apa yang sudah kita lakukan selama kita hidup dalam mengisi kemerdekaan ini ?
Menurut saya perlu kiranya kita evaluasi secara menyeluruh tentang memaknai kemerdekaan. Agar kemerdekaan jangan hanya dimaknai sebagai bentuk sukacita semata, namun harus ada kegiatan positif lain yang justru lebih berbekas dan bermakna bagi kehidupan kita sehari-hari.
Akhirnya, saya sampaikan Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-61, mari kita perangi kemiskinan, kebodohan, kemalasan dan kebiasaan buruk yang ada dalam diri kita, mari kita berjuang untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik sebagai bentuk memaknai kemerdekaan ini.
2 comments:
baguuusssss, lanjutkan
iyah,sepakat bagus, dan mari kita terus berjuang bersama.
Post a Comment